Komponen dan Cara Kerja Radiator Mobil

Radiator adalah salah satu komponen pada sistem pendingin mesin mobil yang berfungsi untuk membuang panas mesin melalui media cair yang bersirkulasi di dalam mesin untuk mempertahankan temperatur kerja mesin. Media cair tersebut bisa berupa air atau pun radiator coolant yang bisa kita beli di toko otomotif.

Gambar sirkulasi air radiator pada mesin 1nz-fe

Cara Kerja Radiator Mobil

Cara kerja radiator mobil atau prinsip kerja radiator mobil adalah dengan membuang panas air pendingin dari mesin yang disirkulasikan oleh pompa air (lihat water pump gambar diatas) yang berputar bersama putaran mesin, pembuangan panas ini dilakukan oleh adanya hembusan angin yang berasal dari kipas radiator, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar cara kerja radiator

Air panas yang berasal dari mesin masuk kebagian atas radiator, kemudian kipas radiator berputar untuk membuang panas air tersebut dengan hembusan angin yang melewati sirip-sirip pada radiator.
Saat thermostat mesin terbuka pada temperatur kerja mesin, air yang sudah didinginkan oleh radiator dengan bantuan kipas radiator tersebut masuk kembali kemesin karena dihisap oleh water pump atau pompa air.

Komponen Radiator Mobil

Berikut adalah bagian-bagian pada radiator mobil atau komponen radiator :
1. Upper Tank
2. Lower Tank
3. Saluran air dan sirip-sirip radiator
4. Saluran buang air radiator

Gambar komponen atau bagian bagian radiator

Pada mobil-mobil matic, pada radiator juga terdapat saluran untuk mendinginkan oli transmisi matic atau oil cooler, baik itu yang ditempatkan dibagian bawah radiator atau pun di bagian samping radiator.

Semoga berguna.

Iklan

Cara Kerja Sistem Pengapian DLI (Distributor Less Ignition)

Sistem pengapian tanpa distributor atau yang biasa dikenal sebagai distributorless ignition system (DLI) merupakan sistem pengapian yang telah terkontrol komputer, dimana pada sistem pengapian tersebut telah menggunakan EFI. Pengontrolan pengapian dilakukan secara komputer oleh electronic control unit (ECU). Salah satu sistem pengapian yang telah terkontrol komputer atau electronic spark advance (ESA) adalah pengapian tanpa distributor yang lebih dikenal sebagai distributorless ignition system (DLI).

Sistem pengapian tanpa distributor atau DLI adalah sistem pengapian terkontrol yang sudah tidak menggunakan distributor lagi. Dengan menghilangkan distributor ini maka akan meningkatkan reliabilitas system pengapian dengan mengurangi sejumlah komponen mekanik.

Cara Kerja Sistem Pengapian DLI (Distributorless Ignition System)

Untuk memudahkan dalam memahami sistem pengapian DLI, perhatikan skema distributorless ignition system untuk 4 silinder berikut ini :

Berdasarkan skema di atas, ECU atau komputer mengirimkan sinyal IGT ke power transistor yang ada pada igniter dan setiap transistor akan memutus dan terhubung yakni mengalirkan arus primer koil untuk menghasilkan percikan bunga api di busi. Sistem pengapian tanpa distributor ini satu koil melayani dua busi yang akan menyala secara bersamaan. Percikan api yang bersamaan ini terjadi pada dua silinder pada proses yang berbeda, ketika satu busi sedang memercik di akhir langkah kompresi, satu busi lainnya (pasangannya) memercik pada saat langkah buang.

Kemudian pemberian sinyal IGT berdasarkan masukan dari sensor-sensor. Gambar berikut ini adalah sistem pengapian DLI model inductive storage.

Pada model pengapian CDI seperti pada gambar di bawah ini, DC to DC converter tetap berdiri sendiri sebagai penghasil tegangan tinggi untuk mengisi kapasitor. Kapasitor terletak setelah DC to DC converter dan akan terhubung langsung dengan salah satu ujung dari kumparan primer koil. Sedangkan ujung lain dari kumparan primer tersebut terpasang thyristor. Kaki G dari thyristor terhubung dengan salah satu output microprocessor. Pulsa untuk mengaktifkan thyristor di dapat dari crankshaft angle sensor yang kemudian dikuatkan oleh penguat pulsa di dalam mikroprcessor untuk selanjutnya sinyal tersebut keluar lewat R1 untuk mengaktifkan thyristor.

Pada gambar di atas adalah rangkaian sistem pengapian CDI yang ketika pengapiannya dikontrol oleh ECU berdasarkan sensor-sensor pada mesin. Sistem di atas termasuk pada tipe pengapian distributorless ignition system (DLI) dengan satu koil untuk melayani dua busi. Pemberian sinyal melalui R1 yang digunakan untuk mengaktifkan thyristor diatur oleh microprocessor berdasarkan sensor posisi poros engkol sehingga ketika penyalaan akan selalu tepat sesuai dengan kondisi mesin.

Demikianlah cara kerja distributorless ignition system (DLI) sistem pengapian tanpa distributor. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.

Cara Kerja Ignition Coil Pada Sistem Pengapian

Apa itu Ignition Coil ?

Ignition coil adalah komponen yang berfungsi untuk menaikan tegangan baterai dari 12 Volt menjadi tegangan tinggi hingga 20 KV melalui proses induksi elektromagnetik.

Komponen ini sangat wajib keberadaannya pada mesin bensin karena, mesin bensin harus menggunakan percikan api untuk melakukan pembakaran. Sementara pada mesin diesel, ignition coil tidak akan kita temukan keberadaanya karena mesin diesel melakukan self combustion.

Dari perkembangannya, ignition coil mengalami banyak inovasi. Hal tersebut berbanding lurus dengan teknologi otomotif yang juga kian berkembang.

Beberapa tipe ignition coil adalah;

1. Single Coil
Jenis single coil atau koil tabung menjadi komponen yang populer untuk sistem pengapian konvensional dan sistem pengapian transistor. Sesuai namanya, koil ini hanya berjumlah satu untuk mensuplai energi listrik bertegangan tinggi ke masing-masing busi.

Coil pack menggunakan dua kumparan yang terletak berdekatan untuk menghasil- kan induksi elektromagnetik. Tegangan yang dihasilkan bisa mencapai 10 – 20 KV.

2. Individual Coil Pack
Individual coil pack, digunakan pada sistem pengapian DLI (Distribution less Ignition) yang populer saat ini. Bentuk coil ini lebih kecil dan berjumlah sesuai jumlah silinder.

Meski memiliki bentuk yang lebih kecil, tegangan sekunder yang dihasilkan lebih besar daripada coil biasa. Output yang dihasilkan bisa mencapai 40 KV.

3. Dual Coil Pack
Dual coil pack, memiliki bentuk yang lebih kecil dibandingkan coil jenis tabung. Dual coil pack hampir sama dengan individual coil pack namun jumlah coil pada dual coil pack berjumlah dua buah yang bekerja secara bergantian.
Sehingga saat salah satu coil bekerja, maka akan menghasilkan output yang dikirimkan ke dua silinder. Sehingga dua busi akan bekerja bersama saat langkah kompresi dan langkah buang.

Konstruksi Ignition Coil

Didalam sebuah ignition coil terdapat dua komponen utama yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Namun ada beberapa komponen tambahan yang berguna untuk memaksimalkan kinerja ignition coil.

Kontruksi-ignition-coil

  1. Kumparan Primer

Didalam ignition coil, kita akan menemukan komponen kumparan primer yang berfungsi untuk menciptakan medan magnet disekeliling kumparan. Kumparan primer memiliki kawat kumparan dengan diameter yang lebih kecil daripada kawat kumparan sekunder yaitu berkisar 0,5-1,0 mm.

Untuk jumlah lilitan, kumparan primer memiliki jumlah lilitan kawat lebih sedikit dibandingkan jumlah lilitan kawat kumparan sekunder. Didalam ignition coil, kumparan primer terletak diluar kumparan sekunder. Hal ini akan membuat induksi elektromagnetik lebih maksimal.

Kumparan primer memiliki dua buah terminal yaitu terminal positive dan terminal negative. Terminal positif terhubung dengan arus listrik yang berasal dari baterai, sementara terminal negative terhubung dengan kontak point (platina).

  1. Kumparan Sekunder

Komponen kedua didalam ignition coil adalah Kumparan sekunder. Komponen ini terletak didalam kumparan primer karena akan menerima medan magnet dari kumparan primer. Kumparan sekunder memiliki jumlah lilitan yang lebih banyak mencapai 15.000 lilitan dengan diameter kawat lebih kecil dibandingkan kawat kumparan sekunder. Sesuai dengan fungsinya, untuk menaikan tegangan dibutuhkan kumparan sekunder dengan lilitan lebih banyak.

Kumparan sekunder juga memiliki dua buah terminal. Terminal positive terhubung dengan terminal positive kumparan primer. Sehingga saat arus listrik mengalir ke ignition coil, secara otomatis kedua kumparan akan mendapatkan pasokan arus listrik. Sedangkan terminal negative terhubung dengan busi sebagai output pengapian. Didalam kumparan sekunder terdapat sebuah inti besi yang berfungsi untuk memaksimalkan medan magnet yang tercipta.

  1. Komponen Penyekat

Kedua kumparan baik kumparan sekunder terletak secara berlapis, untuk mencegah terjadinya hubungan singkat arus listrik maka harus disertakan komponen isolator yang akan bertahan pada tegangan tinggi.

Pada ignition coil biasa atau tabung, terdapat isolator penyekat berupa kertas khusus yang terletak diantara kedua kumparan. Kertas ini berbahan khusus sehingga dapat menahan terjadinya hubungan arus listrik pada tegangan yang tinggi.

Sedangkan pada ignition coil modern, model lilin lebih populer digunakan sebagai penyekat. Karena lebih fleksibel dan dapat memenuhi ruangan kosong pada coil yang berbentuk lebih kecil.

Prinsip kerja Ignition Coil

Ignition Coil bekerja berdasarkan prinsip trafo step up menggunakan induksi elektromagnetik. Hubungan antara medan magnet didalam kumparan, sudah dikemukakan oleh Michael Faraday dalam hukum Faraday.

Menurutnya semakin cepat terjadinya perubahan medan magnetik, ggl yang diinduksi semakin besar.

rangkaian-ignition-coil
Cara kerja ignition coil dimulai ketika arus listrik positive dari baterai masuk kedalam terminal input ignition coil. Hal itu akan menyebabkan kedua kumparan baik kumparan primer atau kumparan sekunder mendapatkan suplai arus listrik.

Di kumparan primer, arus mengalir dari terminal positive menuju kumparan dan keluar melalui terminal negative, selanjutnya arus listrik tersebut diteruskan ke masa melalui platina karena mesin belum bekerja, maka platina dalam posisi tertutup atau tersambung.

Sehingga, terjadi Garis Gaya Magnet disekitar kumparan primer. Sesuai dengan prinsip induksi elektromagnet ketika arus listrik mengaliri sebuah inti besi, maka terjadi kemagnetan dengan arah tertentu.

Sementara pada kumparan sekunder, arus listrik mengalir dari terminal positive menuju kumparan sekunder dan keluar sampai ke busi. Dikarenakan busi memiliki celah, maka arus dari kumparan sekunder tidak diteruskan ke masa dan menyebabkan tidak ada kemagnetan yang keluar dari kumparan primer.

Saat ini, sebenarnya sudah terjadi terjadi proses induksi elektromagnetik didalam coil. Namun besarannya masih kecil sehingga output yang dihasilkan tidak mampu memercikan bunga api.

Untuk memperbesar output yang dihasilkan, maka perlu mengarahkan garis gaya magnet ke dalam kumparan sekunder dengan waktu yang cepat.

Saat mesin mulai bekerja, maka platina juga akan mulai membuka dan menutup. Saat platina terbuka, arus listrik dari terminal negative coil juga terputus. Sehingga terjadi pergerakan medan magnet pada coil sebelum akhirnya menghilang.

medan-magnet-coil

Pergerakan itu diarahkan menuju kumparan sekunder berkat desain penempatan coil yang berlapis. Sehingga saat arus primer terputus medan magnet akan bergerak kedalam mengenai kumparan sekunder dengan cepat sebelum menghilang.

Saat kumparan sekunder terkena pergerakan medan magnet dari kumparan primer, maka akan menghasilkan lonjakan tegangan pada kumparan sekunder. Loncakan tegangan tersebut bisa berkisar 10 sampai 30 KV.

Dengan listrik yang mencapai puluhan KV, memungkinkan terjadinya percikan bunga api pada busi. Karena sifat arus akan selalu mendekati masa.

Saat paltina kembali terhubung, maka arus primer juga terhubung kembali dengan masa. Sehingga medan magnet pada coil akan kembali terbentuk. Proses ini akan berlangsung secara terus menerus selama mesin hidup.

Semoga bermanfaat !!

 

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI (Capasitor Discharge Ignition)

Apa Itu Sistem Pengapian CDI ?

Sistem pengapian CDI adalah sebuah rangkaian pengapian pada mesin bensin yang memanfaatkan penyimpanan arus bertegangan tinggi untuk melakukan induksi dengan hasil tegangan yang lebih tinggi. CDI sendiri kependekan dari Capasitor Discharge Ignition.

Sistem pengapian ini lebih populer digunakan pada sepeda motor dikarenakan memiliki bentuk yang lebih simple sehingga cocok diletakan pada mesin sepeda motor.

Skema-cara-kerja-pengapian-sepeda-motor
Sesuai namanya, sistem pengapian CDI menggunakan Capasitor sebagai komponen utama. Capasitor berfungsi untuk menyimpan arus yang kemudian dilepaskan ke ignition coil.

Sistem pengapian CDI ada dua macam, yaitu ;
1. Sistem CDI AC
Sistem ini menggunakan tegangan utama yang bersumber dari spool atau altenator mesin. Altenator akan menghasilkan arus bolak-balik atau AC yang kemudian digunakan untuk pengapian CDI. Namun sebelum masuk ke Capasitor, ada komponen dioda yang berfungsi mengubah arus tersebut menjadi searah (DC).

2. Sistem CDI DC
Sistem kedua, langsung menggunakan tegangan yang berasal dari baterai. Sehingga tidak lagi diperlukan komponen dioda pada CDI unit karena arus baterai sudah dalam bentuk DC. Namun ketika baterai mengalami kerusakan, sistem pengapian juga berpotensi eror.

Perbedaan pengapian CDI dengan pengapian lain :

1. Sistem pengapian CDI menggunakan metode pengaliran arus betegangan tinggi untuk menghasilkan output yang lebih besar. Sementara pengapian biasa, meng- gunakan metode pemutusan arus.

2. Sistem ini memiliki tingkat keawetan yang lebih baik, karena tidak ada komponen yang bergesekan sehingga minim untuk melakukan penyetelan.

Komponen Sistem Pengapian CDI beserta Fungsinya

Meski memiliki perbedaan prinsip kerja, sistem pengapian model CDI masih menggunakan beberapa komponen yang sama seperti pengapian biasa, yaitu:
1. Baterai
Baterai menjadi penyedia arus listrik untuk beberapa komponen elektrikal kenndaraan. Mengingat sistem pengapian menggunakan energi listrik, maka keberadaan baterai sangat diperlukan. Khusus untuk pengapian CDI AC, keberadaan baterai bisa dihilangkan. Karena kebutuhan energi listrik sudah dipenuhi langsung dari spul/kumparan.

2. CDI unit
Didalam komponen CDI unit terdapat beberapa komponen yang saling terintegrasi. Komponen Capasitor menjadi komponen utama dalam sistem ini.

jalur-pengapian-cdi
Capasitor adalah komponen elektronika yang mampu menyimpan arus dalam voltase besar dan dapat disalurkan ke komponen elektrik. Fungsi ini layaknya baterai namun dalam bentuk lebih kecil. Didalam CDI unit juga terdapat komponen SCR yang berfungsi mengatur aliran arus Capasitor sesuai pulse yang dikirimkan oleh pulse igniter.

3. Converter
fungsi converter adalah untuk menaikan tegangan listrik dari baterai untuk pengisian capasitor. Converter bekerja seperti trafo step up yang akan menaikan tegangan primer 12 Volt menjadi 200 – 300 Volt. Tegangan ini akan digunakan untuk pengisian capasitor.

4. Pulse Igniter
Pulse igniter adalah komponen yang akan mengirimkan trigger berupa sinyal PWM, yang mengindikasikan timing pengapian. Sinyal dari Pulse Igniter akan digunakan untuk menentukan timing pengapian. Pulse igniter bekerja dengan prinsip perpotongan garis gaya magnet melalui magnet permanen dan rotor bergerigi. Saat gerigi pada rotor itu memotong Garis gaya magnet, maka akan timbul pulse dengan frekuensi sesuai dengan kecepatan rotor.

5. Ignition Coil
Ignition coil berfungsi untuk mengubah tegangan listrik dari 12 Volt menjadi 20 KV atau lebih agar terjadi percikan api pada busi. Ignition Coil bekerja seperti trafo step-up yang menggunakan prinsip induksi elektromagnetik. Untuk selengkapnya, bisa baca cara kerja ignition coil.

6. Busi
Busi pada sistem pengapian CDI sama dengan tipe pengapian lain. Fungsi busi adalah untuk memercikan bunga api. Busi dapat memercikan bunga api karena ada celah antara elektroda dan masa. Celah itu kurang dari 1 mm sehingga saat elektroda busi dialiri listrik dengan tegangan mencapai 20 KV otomatis akan timbul percikan. Percikan tersebut dikarenakan arus pada elektroda akan selalu mendekati masa.

Semoga bermanfaat !!

Cara Kerja Sistem Pengapian Elektronik (Transistor) pada mobil

Apa itu Sistem pengapian Elektronik (Transistor)?

Sistem pengapian Transistor (Fully Transistorized Ignition) adalah sistem pengapian yang memanfaatkan komponen transistor sebagai saklar pemutus arus primer untuk menghasilkan induksi elektromagnetik.

Sistem pengapian ini menggantikan jenis pengapian , yang masih memanfaatkan komponen mekanikal. Sistem pengapian transistor diperkenalkan sejak tahun 1955 oleh Lucas. Saat itu model pengapian ini digunakan pada mesin BRM dan Coventry Climax F1.

Pengapian elektronik (transistor) dibagi menjadi dua macam yaitu :

1. Sistem pengapian semi transistor
Sistem ini masih menggunakan kontak platina. Namun bukan berfungsi untuk memutus arus primer coil, melainkan untuk memutuskan arus menuju kaki basis pada transistor.

2. Sistem pengapian fully transistor
Sistem kedua ini sudah tidak menggunakan platina atau murni pengapian elektronik. Untuk memutuskan arus pada kaki basis, digunakan alat berupa igniter yang akan mengirimkan sinyak sesuai timing pengapian untuk memutuskan arus pada kaki basis transistor.

Kelebihan sistem pengapian transistor dibandingkan sistem pengapian konvensional, adalah :

1. Tidak perlu melakukan penyetelan

Pada sistem pengapian konvensional, terdapat komponen platina sebagai pemutus arus primer yang bekerja membuka dan menutup kontak saat kaki platina terkena gerakan Cam.

Di area kontak point menjadi daerah yang paling penting untuk menentukan keberhasilan sistem pengapian. Untuk itu penyetelan celah platina harus dilakukan secara rutin.

Namun pada sistem pengapian transistor, tidak memiliki kontak point yang bekerja membuka dan menutup. Melainkan saklar elektronik berupa transistor yang akan memutus dan menghubungkan arus sehingga penyetelan tidak diperlukan pada pengapian ini.

2. Tidak ada gesekan antar logam

Pada pengapian konvensional, kontak platina akan dikontrol oleh cam yang terhubung dengan poros engkol mesin. Cam tersebut akan bergesekan dengan kaki platina. Dalam jangka waktu tertentu, akan menyebabkan keausan pada kedua komponen tersebut. Sehingga sistem pengapian akan terganggu.

Beda halnya dengan pengapian transistor yang bekerja secara elektronik. Dalam pemutusan arus, transistor tidak membutuhkan gesekan antar komponen.

Komponen Sistem Pengapian Transistor

1. Baterai
Baterai berfungsi untuk menyediakan dan menyimpan pasokan arus listrik untuk keperluan elektrikal kendaraan, salah satunya untuk sistem pengapian elektronik ini.
2. Ignition Coil
Ignition Coil berfungsi untuk menaikan tegangan secara spontan mencapai 20 KV. Didalam ignition coil terdapat dua coil utama, coil primer yang berguna untuk membangkitkan medan magnet. Dan coil sekunder yang memiliki lilitan tembaga lebih banyak untuk menerima medan magnet.

ignition coil
Ignition coil bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik dengan meletakan kumparan dengan jumlah lilitan sekunder lebih banyak. Sehingga dapat menimbulkan efek step-up. untuk lebih lengkap simak cara kerja ignition coil

Ignition coil berbeda dengan trafo. Komponen ini bekerja sesaat saja karena akan terjadi induksi elektromagnetik ketika arus primer terputus. Namun tegangan sekunder yang dihasilkan jauh lebih besar dari pada trafo step up.

3. Transistor unit
Transistor unit berfungsi sebagai komponen utama yang bertugas untuk memutuskan dan menyambungkan arus primer. Komponen ini akan menggantikan platina sebagai pemutus arus.

Semoga bermanfaat.

10 Komponen Sistem Pengapian Konvensional dan Fungsinya

Apa fungsi sistem pengapian ? sebagian besar anda pasti sudah mengetahuinya,  sistem pengapian berperan sebagai pemicu pembakaran melalui percikan busi. Pada prosesnya, busi bisa mengeluarkan percikan api karena ada rangkaian pengubah tegangan menjadi super tinggi.

Pengubahan tegangan ini, menggunakan prinsip induksi elektromagnet seperti trafo step-up. Hanya saja proses pengubahan ini berlangsung sekejap agar pengubahan bisa fokus ke satu titik untuk memperoleh tegangan output yang besar.

Sistem pengapian, dipakai untuk pengubahan dari listrik baterai tegangan 12 volt hingga 20 KV pada busi. Untuk melakukan ini, sistem pengapian dibekali oleh beberapa komponen penghubung. Berikut adalah komponen-komponen sistem pengapian konvensional yang berperan dalam rangkaian pengubahan dan pemercikan api pada busi.

  1. Baterai

Baterai berfungsi sebagai sumber arus, mengapa batera masuk ke komponen pengapian ? bukannya baterai itu komponen kelistrikan kendaraan ? memang dan sistem pengapian salah satu kelistrikan mobil, jadi semua yang memerlukan arus listrik harus menyertakan baterai sebagai komponennya.

Tegangan baterai normal, 12 volt entah pada motor ataupun mobil. Perbedaan antara aki motor dan mobil itu bukan pada tegangannya melainkan pada dayanya yang memiliki satuan Watt. Ini karena daya listrik pada mobil itu lebih besar, selain sistem pengapian ada pula sistem penerangan dan aksesoris yang memerlukan daya listrik besar.

  1. Kunci kontak

Beberapa dari kita mengenal kunci kontak sebagai alat penstater mesin, atau komponen untuk menghidupkan starter mesin. Itu benar, tapi bukan hanya itu fungsi ignition switch. Pada lubang ignition ada 4 posisi yakni ;

  • Posisi Off
  • Posisi Acc
  • Posisi On
  • Posisi ST

Pada posisi Acc, sistem pengapian masih belum aktif dalam artian belum ada arus yang memasuki coil primer. Listrik baru akan masuk ke coil primer saat kunci kontak kita posisikan pada posisi ON. Pada posisi ini, bukan hanya coil primer yang mendapatkan arus tapi seluruh sistem utama kendaraan juga sudah siap diaktifkan.

  1. Ignition coil

Inilah komponen yang paling penting, karena mengusung fungsi sebagai trafo step up, atau menaikan tegangan baterai. Seperti yang kita singgung diatas bahwa coil ini bekerja dengan prinsip induksi elektromagnet memakai dua buah coil. Dimana jumlah lilitan coil sekunder lebih banyak dari coil primer, sehingga ketika kemagnetan dari coil primer menginduksi coil sekunder dapat terjadi peningkatan tegangan. Selengkapnya bisa anda simak pada prinsip kerja ignition coil berikut.

  1. Distributor

Pada sistem pengapian konvensional, distributor menjadi komponen yang digunakan dalam hal timming dan FO. Distributor terdiri dari poros yang terhubung dengan cam, cam ini dipakai untuk memutuskan aliran arus dari coil primer.

Sementara itu, dibagian tutup distributor akan anda temui dua komponen utama yang berkaitan dengan fairing order. Yakni rotor dan distributor cap. Rotor merupakan komponen konduktor yang membagikan output dari coil ke kabel busi sesuai FO, sementara distributor cap merupakan pangkal dari kabel busi untuk menyalurkan dan menerima output coil ke rotor. Selengkapnya bisa anda simak pula pada bagian-bagian distributor pengapian.

  1. Kontak point/platina

Contact point atau breaker point merupakan sebuah plat mirip saklar yang dapat terputus dan tersambung. Untuk apa fungsinya ? ini seperti prinsip kerja coil dimana untuk menghasilkan tegangan output yang besar perlu dilakukan pemutusan arus primer. Kontak inilah yang bertugas memutuskan arus primer sesuai dengan sudut pengapian.

Cara kerja kontak point yakni dengan memanfaatkan cam yang menyentuh kaki ebonit. Saat kaki ini tersentuh cam, maka kontak akan membuka dan menyebabkan arus primer terputus. Kontak ini juga familiar disebut platina karena memakai logam platina pada ujung kontaknya.

  1. Vacuum advancer

Vacuum advancer, bertugas pada bagian spark advancing, atau pengubahan timming pengapian. Mengapa timming perlu diubah ? ini bertujuan untuk menyesuaikan kondisi mesin dengan pengapian, misal pada saat mesin membawa beban berat. Kondisi ini akan menimbulkan gerakan piston yang lambat meski katup gas terbuka penuh.

Jika timming tetap, maka bisa jadi meimbukan efek contra yang justru menghambat laju piston. Untuk menyesuaikannya, maka timming pengapian akan dimundurkan hampir 0 derajat sehingga expansi hasil pembakaran bisa dipakai sepenuhnya untuk mendorong piston kebawah.

Vacuum advancer akan memundurkan pengapian berdasarkan beban mesin, ini dideteksi dari kevakuman di intake manifold. Jika kondisinya seperti diatas maka daya hisap pada piston menurun, dan kontak point akan bergeser lebih lambat. Untuk lebih detail bisa baca cara kerja vacuum advancer.

  1. Governoor advancer

Sentrifugal governoor advancer juga sama seperti vacuum advancer, fungsi governorr advancer adalah mengubah timming pengapian mesin berdasarkan RPM mesin. Kondisinya, apabila RPM tinggi maka timming pengaian harus dibuat lebih awal agar tidak terjadi knocking dan self ignition.

Governoor advancer menggunakan dua buah bandul yang dapat meregang berdasarkan gaya sentrifugal yang mengenainya. Bandul ini akan menempel pada poros distributor dan putaran poros akan menimbulkan gaya sentrifugal pada bandul, regangan bandul digunakan untuk mempercepat sudut buka platina. Simak prinsip kerja governoor advancer untuk lebih detail,

  1. Kapasitor

Capasitor atau condensor merupakan komponen elektronika yang memiliki kemampuan menyerap arus dan mengeluarkannya saat diperlukan. Pada pengapian konvensional, kemampuan ini digunakan untuk menyerap api dari coil primer.

Ketika kontak point membuka, maka harusnya arus primer coil terputus. Namun, pembukaan platina itu hanya sekitar 0,5 mm. Dengan celah sekecil ini, maka listrik tegangan 12 volt bisa melompat sehingga akan muncul percikan api pada platina dan proses pemutusan arus terganggu.

Dengan adanya capasitor maka ketika platina membuka, arus listrik akan dipindahkan ke capasitor yang memiliki koneksi. Namun arusnya tidak disimpan didalam capasitor karena langsung dihubungkan ke masa. Proses ini akan membuat capasitor langsung mengalami kekosongan sehingga bisa dipakai secara cepat dan berulang-ulang.

  1. Kabel Busi

Kabel pada busi, memiliki bentuk dan kemampuan berbeda dengan kabel-kabel umumnya. Kabel ini biasanya terbuat dari tembaga berdiameter besar dengan isolator yang tebal. Ini karena kabel busi akan menghubungkan tegangan super tinggi dari output coil. Sehingga diperlukan kabel yang memiliki daya tahan besar.

  1. Busi

Komponen terakhir pada sistem pengapian mesin bensin ialah busi atau spark plug. Busi terdiri dari sebuah core atau batang elektroda sebagai penerima arus listrik dari output coil dan masa yang terletak pada body busi. Celah yang anda lihat pada busi, itu celah antara ujung elektroda yang memiliki listrik positif dan ground yang memiliki listrik negatif.

Sehingga jika arus listrik pada elektroda memiliki tegangan yang besar, maka listrik tersebut mampu keluar atau melompat ke ground yang berwujud percikan api. Begitulah cara busi menghasilkan api.

Demikian artikel lengkap dan super jelas mengenai komponen sistem pengapian konvensional mobil beserta gambar dan fungsinya. Semoga bisa menambah wawasan kita dan bermanfaat bagi kita semua.

4 Macam Sistem Pengapian Kendaraan beserta Fungsi dan Gambar Rangkaiannya

Pernahkan anda memikirkan mengapa busi bisa mengeluarkan api ? mungkin beberapa dari anda sudah mengetahuinya bahwa busi sebenarnya tidak mengeluarkan api melainkan memercikan energi listrik. Namun, darimanakah listrik sebesar itu hingga bisa berwujud seperti pantikan bunga api ?

Kita tahu, sistem kelistrikan kendaraan menggunakan baterai dengan tegangan 12 volt. Tegangan sebesar ini dipastikan tidak akan mengeluarkan pantikan pada celah sebesar 0,8 mm. Untuk itu ada rangkaian peningkatan tegangan listrik agar listrik mampu keluar dari elektroda busi dalam bentuk percikan api.

Rangkaian ini, disebut rangkaian sistem pengapian. Ada  4 tipe sistem pengapian pada kendaraan, antara lain :

  1. Sistem pengapian konvensional
  2. Sistem pengapian transistor (elektronik)
  3. Sistem pengapian CDI (Capasitor Discharge Ignition)
  4. Sistem pengapian DLI (Distribution Less Ignition)

Apa pengertiannya, perbedaanya? dan bagaimana cara kerjanya ? bisa anda simak semuanya pada artikel dibawah ini.

  1. Sistem Pengapian Konvensional

Sistem pengapian konvensional merupakan rangkaian pengapian dengan kinerjanya secara mekanis. Mengapa disebut secara mekanis ? karena dalam hal melakukan pengubahan tegangan dilakukan secara mekanis dengan memutuskan arus primer coil menggunakan kontak point.

Kontak point ini disebut juga sebagai platina karena ujung point ini berbahan platina. Platina, secara normal akan terhubung dengan massa, tapi apabila kaki platina terkena cam maka kontak akan terputus. Terputusnya kontak platina ini digunakan untuk meningkatkan tegangan primer dengan cara induksi elektromagnet.

Selain itu, untuk membagi busi mana yang hidup juga digunakan sistem mekanis dengan menggunakan bantuan rotor dan distributor. Komponen distributor ini terhubung dengan crankshaft sehingga saat rotor distributor berputar maka tegangan hasil induksi akan didistribusikan ke semua busi sesuai fairing order.
Meski memakai sistem mekanis, tipe pengapian konvensional menjadi dasar terciptanya sistem pengapian modern. Saat ini, sudah sangat jarang kita temui mobil-mobil dengan sistem ini karena dari segi efisiensi listrik kalah dengan pengapian modern.

cara kerja pengapian konvensionalUntuk penjelasan lebih detail klik :

2. Sistem Pengapian Transistor

Sistem pengapian transistor menjadi skema pengapian dengan komponen elektronika, namun masih tetap ada beberapa komponen mekanis. Sistem pengapian transistor adalah rangkaian kelistrikan yanh menggunakan transistor sebagai pemutus arus primer.

Secara prinsip, sistem ini sama seperti sistem konvensional hanya saja ada output kumparan primer coil akan dihubungkan dengan sebuah transistor selaku saklar elektronik. Sementara untuk membagi tegangan, komponen distributor tetap disediakan.

Ada dua macam pengapian transistor yakni

  • Tipe semi-transistor, masih menggunakan kontak point yang dijadikan pemutus arus basis pada kaki transistor.
  • Tipe fully-transistor, tipe full transistor menggunakan signal generator yang menggantikan kontak point. Penggunaan signal generator ini tidak menimbulkan gesekan karena bekerja secara magnetic.  Selengkapnya simak cara kerja pengapian elektronik.

cara kerja pengapian transistor

3. Sistem pengapian CDI

Sistem pengapian berikutnya lebih banyak diaplikasikan pada sepeda motor. Pengapian CDI menggunakan capasitor yang dapat menyimpan dan mengeluarkan semua arusnya dengan cepat.

Cara kerja CDI dimulai ketika magnet menghasilkan arus saat engkol mesin berputar. Arus yang dihasilkan dalam bentuk AC akan disalurkan kedalam Capasitor unit agar arusnya bisa diserap. Dilain tempat ada pulser yang akan menentukan timming pengapian berdasakan kemagnetan.

Saat pulser mengirimkan triger maka capasitor akan mengeluarkan (discharge) seluruh arus listriknya ke coil primer. Didalam coil tegangan listrik diperbesar lagi sehingga mampu mengeluarkan api pada busi. Lebih detailnya bisa anda simak pada cara kerja pengapian CDI motor.

4. Sistem pengapian DLI

DLI merupakan singkatan dari distributor less ignition. Seperti namanya, sistem ini tidak menggunakan komponen distributor. Lantas, bagaimana kinerjanya ?

DLI banyak diaplikasikan pada mobil-mobil modern, biasanya menggunakan dual coil pack atau single coil pack. Dengan kata lain, setiap busi akan dilayani oleh sebuah coil, sehingga satu coil hanya akan meningkatkan tegangan untuk satu busi.

Dalam hal ini, pada mesin 4 silinder misalnya maka ada 4 input yang masing-masing akan memberi perintah kapan coil akan bekerja. Input ini diatur oleh ECM dengan bantuan sensor CKP, CMP dan beberapa sensor lain.

Pada tipe single coil pack maka keberadaan kabel busi juga ditiadakan karena output coil akan langsung disalurkan melalui per ke busi, Tentunya ini meningkatkan efisiensi penyaluran energi listrik. Untuk mempelajari DLI bisa anda simak cara kerja pengapian DLI


Demikian artikel lengkap dan detail mengenai macam macam sistem pengapian pada mobil dan motor, semoga bisa menambah wawasan kita dan bermanfaat bagi kita semua.